Sertifikasi Linux, Perlukah?

Kala linux mulai populer, naik daun dengan maskot penguin, menjamurlah suatu bisnis baru. Training linux. Iming-imingnya adalah sertifikat dan titel. LCP, CompTIA, RHCE dan sebagainya. Untuk sebuah harga training dibandingkan dengan MSCE atau CCNP, harga training kurang lebih mendekati.

Memang lembaga training menjalankan strategi bisnisnya, tapi ada yang aneh dengan frase Training Linux. Mari kita kaji persoalan ini.

Tatkala instansi dan lembaga mulai melirik linux dengan di berlakukannya UU Haki, linux mulai digunakan sebagai suatu solusi yang murah dan powerful. Karena instansi dan lembaga tidak mau dicap sebagai pembajak dan membayar denda sekian ratus juta untuk menggunakan produk software illegal. Instansi mulai mencari sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan linux layaknya mengoperasikan Microsoft yang harganya mahal. Dan mulai memberikan pelatihan linux untuk staff mereka, khususnya bidang IT. Ketika di telaah lebih jauh, pelatihan linux harganya mahal. Loh koq begitu ?

Linux nya kan murah, koq trainingnya mahal ? Kalau menggunakan jasa konsultasi linux, sama juga mahalnya. Memakai linuxnya memang tidak bayar, tapi kok memberi pelatihan kepada staff kok mahal ? atau kalau mau merekrut orang baru, koq harganya tinggi ? Jadi perusahaan mau bagaimana ? Kan linux beda dengan Microsoft yang memang bisnis based. Wajar-wajar saja kalau training Microsoft mahal, tapi koq linux ikut-ikutan mahal ?

Di sisi lain karena permasalahan diatas, muncul fenomena baru, lahirlah ladang bisnis baru buat pecandu linux untuk membuat tawaran solusi yang tentu jauh lebih murah. Kemudian muncul lagi tempat-tempat pelatihan yang memberikan pelajaran linux murah dan mantap.

Pertentangan ideologi yang aneh antara sertifikasi linux dengan cita-cita awal dibuatnya linux. Linus membuat linux karena beliau tidak punya cukup uang untuk membeli unix. Maka beliau membuat OS kreasinya dengan bantuan banyak programmer dari berbagai belahan benua. Beliau mulai mengembangkan linux sampai saat ini, sampai linux menjadi setangguh sekarang. Patut diancungi jempol untuk ideologinya, kemudian muncul ideologi tentang sertifikasi linux. Tidak tahu apakah ini karena ingin menyaingi sertifikasi Microsoft atau sekedar membuat peluang bisnis baru. Jika dipikir-pikir kalau ingin menyaingi Microsoft, linux memang handal terlepas dari masalah sertifikasi. Tetapi kalau dilihat dari sisi biaya training, rasanya linux kalah jauh populernya. Yah karena ideologi awal tadi. Perusahaan tentunya ingin mengirit pengeluaran mereka dalam sisi biaya, dan rasanya aneh kalau mereka harus membayar mahal untuk sdm linux dibandingkan dengan sdm Microsoft. Orang justru mau belajar supaya bisa dibayar mahal, ini malah bayar mahal dulu baru bisa belajar.

Ada lagi perusahaan yang mencari sdm linux untuk bekerja di instansi mereka. Dengan dahlil orang yang bersertifikasi linux dianggap masih mau berkeinginan belajar walau sudah lulus dari universitas. Dahlil ini sebenarnya bisa dipatahkan dengan mudah. Memangnya kalau mau belajar linux harus ambil sertifikasi ? nah belajar linux tanpa sertifikasi saja merupakan perjuangan dengan proses panjang yang tentunya lebih rumit daripada mengikuti training. Kenapa ? karena belajar dari buku, chatting di channel linux, mengikuti milis linux, membaca artikel linux online di internet sudah merupakan proses belajar panjang yang menjenuhkan. Terus kenapa dicap sebagai orang yang tidak berkeinginan belajar kalau tidak ambil sertifikasi ? bukankah aneh rasanya ?

Kesimpulan akhir:
Memang sertifikasi linux perlu jika kita mempunyai kantong yang tebal. Buat yang tidak berkantong tebal, tidak bersertifikasi linux bukan berarti anda kalah dalam persaingan karir. Tunjukkan kemampuan mengoprek linux anda.

Buat penyelenggara training, mungkin artikel ini menjadi kritikan, tetapi akan menjadi pendorong semangat buat kemajuan linux juga. Mohon maaf jika ada yang tersinggung, dan emosi setelah membaca artikel ini.

Jayalah linux.